Jokowi Marah, Nadiem Makarim di Ujung Tanduk

Jokowi Marah, Nadiem Makarim di Ujung Tanduk

Senin, 29 Juni 2020

Jokowi Marah – Template Mikrotik

Infodikbud.com -  Pakar intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim berada di ujung tanduk, posisinya mengkhawatirkan, tidak aman. Apakah Nadiem akan lanjut sebagai menteri sampai akhir periode pemerintahan Jokowi, atau di-reshuffle di tengah jalan, tergantung beberapa faktor termasuk besar kecilnya tekanan dari berbagai pihak yang mempunyai pengaruh.

"Nadiam Makarim ini pertentangannya luar biasa, tergantung tekanan. Kalau tekanannya tinggi, bisa jadi tidak aman," ujar Stanislaus kepada Tagar, Senin, 22 Juni 2020.

Nadiem Makarim adalah pertaruhan Jokowi, kata Stanis. "Jokowi menunjuk Nadiem adalah lompatan cukup ekstrem. Menteri Pendidikan yang biasanya dijabat oleh senior, tokoh dari Muhammadiyah, kemudian tiba-tiba Nadiem. Ini pertentangannya luar biasa. Banyak sekali pertentangan terhadap Nadiem Makarim."

Terlepas dari pertentangan politik, Stanis melihat kinerja Nadiem Makarim belum kelihatan. "Nadiem mau menjalankan program kerja, ternyata tiba-tiba ada pandemi Covid-19, terpaksa harus menjalani protokol kesehatan di bidang pendidikan, mau enggak mau."

Nadiam Makarim ini pertentangannya luar biasa, tergantung tekanan. Kalau tekanannya tinggi, bisa jadi tidak aman.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan Program dan Kebijakan Pendidikan Tinggi bertajuk Merdeka Belajar: Kampus Belajar di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Situasi pandemi yang justru menguntungkan Nadiem, kata Stanis. "Dia diuntungkan situasi ini, karena dia memang ahlinya teknologi. Ketika kita dipaksa menerapkan protokol kesehatan, mau enggak mau kan harus menggunakan teknologi. Dia tertolong situasi ini sebenarnya."

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan akan melakukan reshuffle atau perombakan kabinet kalau memang diperlukan demi menyelamatkan 260 juta rakyat Indonesia. Jokowi marah, jengkel melihat pembantunya tidak mempunyai sense of crisis menangani ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Kemarahan Jokowi tersebut terjadi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, 18 Juni 2020. Video memperlihatkan kejengkelan Jokowi itu diunggah Sekretariat Presiden di YouTube, Minggu, 28 Juni 2020.

"Kita harus mengerti ini. Jangan biasa-biasa saja. Jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali ini. Dan, saya melihat bapak dan ibu menganggap ini masih normal," ujar Jokowi.

Kemudian tercetus kata reshuffle dari bibirnya, sebagai bagian dari upaya memperbaiki keadaan. "Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya.”

Stanislaus Riyanta memprediksi Presiden Jokowi akan melakukan reshuffle kabinet berbarengan dengan pergantian Kapolri dan Panglima TNI, pada awal tahun 2021.